Naik, lebih naik lagi
turun, lebih turun lagi
lebih
rendah
lebih rebah
penyangga kepala naik turun
jari jemariku
menari pada dental chair
satu bulatan logam pembuang ludah, bertengger
secangkir air bercampur betadine merah darah
lampu kugeser hampir
mendekati wajah
Kuhujam meja dengan seonggok mikromotor dan belalainya
senyum pasien membayang saat sonde dan kaca mulut mulai kujelajah.
"Dental chair, maafkan aku bila aku terlalu banyak pinta, sebab aku
tak ingin ada senyum nelangsa di balik kacamulut dan pinset yang ada
didepan kacamata"
"tidak nak, baju putihmu adalah warna zikirku setiap
detik kau tempelkan jarimu pada tombolku"
Naik,turun,rebah,semakin
turun
berputar bor pada contra angle dengan teratur
yang tertancap
pada mikromotor di dental chair yang tak pernah tidur, hingga matahari
panas membuatku terpekur
"azan itu! dental chair! azan dzuhur! jika
aku tinggalkan engkau sejenak, akankah engkau tidur?"
"tidak nak,sebab
saat bersahabat denganku maka zikirku pada Allah tidak pernah luntur pada
suatu irama yang begitu teratur."
"Seperti kau, aku adalah dental
chair Allah yang Maha Putih, betulkah itu?"
"Allah menyayangimu
nak,jangan pernah tidur saat Dia memanggil dan membelai"
Naik,turun,rebah, semakin rebah, aku pun berputar pada poros bumi
hingga senja kala
Allah mengaturku dari arsyi-Nya, dengan kasih Maha
Putih dan rahasia-Nya
Minggu, 08 Februari 2015
AKU DAN DENTAL CAIR
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar