Mendung masih menggelayut di langit kota Bandung, membuat suasana sore
tampak mendekati senja hari. Tapi suasana ini tidak menyurutkan langkah
para pembesuk pasien di ruang bedah untuk menjenguk dan memberikan
semangat kesembuhan pada sanak keluarga mereka yang tengah dirawat,
tergeletak menghitung hari demi hari.
dan di kamar 2 kelas II ini, saya bersama 5 pasien lainnya, juga tak
henti menerima orang yang berdatangan, layaknya tuan rumah yang
kedatangan tamu. Hampir 3 hari setelah operasi "laminactomi" di
vertebrae lumbal 5 di punggung saya, rasanya sakit masih menghujam
disekujur tubuh. Jarum infus masih menancap di tangan saya. Tetes demi
tetes cairan mengalir menemani rasa kesepian yang sering menyergap saya
saat rasa sakit menyerang pada kedua kaki yang masih lumpuh
"Bagaimana rasanya punggung kau hari ini Din? Opung liat, sepanjang hari
ini kau gelisah kali." Sapa opung Hasan, pasen tetangga sebelah dengan
logat Medannya yang kental. Hampir 2 minggu Opung yang ramah ini dirawat
karena patah kaki dalam kecelakaan mobil.
"Masih sering sakit opung. Kaki kiri saya sampai sekarang masih nggak
bisa di gerakkan" jawab saya pelan sambil melirik kaki kiri saya yang
semakin mengecil karena atrofi otot. Sehari setelah operasi saya sempat
stress dan histeris, karena shock menerima kenyataan bahwa saya harus
mengalami lumpuh sementara, setelah operasi punggung. Sebelumnya kaki
kiri ini tidak lumpuh. Penjepitan syaraf di punggung ternyata memang
berpengaruh besar pada kondisi kaki. Tak terasa saya menghela nafas
sambil membayang hari-hari yang menyenangkan bersama teman-teman saya,
mengikuti kuliah-kuliah drg. Dede yang sangat saya senangi.
"Sabar ya Din. Waktu pertama kali di operasi, ibu juga begitu. Nanti
juga nggak kok" tiba-tiba, ibu Sri, pasien tepat disebelah kiri saya
menyapa sambil tersenyum.Saya tersenyum merasa tersadar dari lamunan.
Jujur saja, saya begitu trenyuh melihat kakinya yang tergantung pada
alat traksi. "open fraktur" pada kaki kanannya menyebabkan kaki itu
harus dipasang "pen". Sebuah proses bedah ortopedi yang sering saya
pelajari di kuliah-kuliah ilmu bedah. Ibu Sri adalah pasien terlama di
kamar 2 ini. Kecelakaan mobil membuat dia terlempar dari bangku depan
sebuah angkot dan malang tak dapat ditolak, kaki kanan mengalami patah
yang cukup parah. Pada saat terlempar, ibu Sri berkata bahwa cuma satu
kata yang dia sempat teriakkan, yaitu "Allahuakbar". Subhanallah, tidak
heran bila saat itu pula dia masih tetap memegang erat kerudungnya agar
tidak terlepas karena terhempas di jalan yang beraspal. Allah,
lindungilah dan beri kekuatan pada ora-orang seperti ibu Sri, tanpa
sadar saya sering berdo’a saat sholat ditempat tidur saya.
Allahuakbar! Hampir jam 17.30! saya kaget melihat jam diatas dinding.
Duh, kenapa Aba belum datang ya? Saya mencari-cari seraut wajah didepan
pintu masuk. Tapi tetap belum kelihatan. Seharian sejak siang Aba dan
emak pulang kekost-an untuk istirahat. Kasian Emak berhari-hari tidak
tidur menjaga saya sejak oprasi. Kerut-kerut diwajah nya semakin
kelihatan, menandakan betapa Emak begitu memikirkan saya setiap saat.
" Emak dan aba pulang sebentar ya nak. Aba titip Dodo sama suster Susi
ya" kata aba tadi pagi sambil menyibakkan anak-anak rambut dibalik
kerudung saya. Saya tersenyum mengiyakan. "dodo" , itu panggilan sayang
emak dan aba yang sangat saya senangi.
"Tapi nanti malam aba yang jaga khan?" tanya saya mengharap.
"Iya, emak istirahat dulu di kost-an dodo. Besok baru kesini lagi ya"
jawab emak. Duh, Allah..kalau ingat kamar kost saya, rasanya sangat
tidak layak buat emak yang biasa berlari-lari antara satu ruangan
keruangan lain di rumah kami di kampung. Tapi, memang mungkin sudah
kehendak Allah, mungkin dengan cara ini kami sekeluarga diuji kesabaran
dalam kesakitan.
Waah! Hampir jam 6 sore! saya tersadar dari lamunan dan semakin gelisah.
Entah kenapa , ruang putih ini rasanya begitu mengkungkung saya jam
demi jam. Apakah karena saya terbiasa berlari-lari dari satu kuliah
kuliah yang lain atau dari satu praktikum ke praktikum yang lain,
sehingga mendekam di kamar kotak seperti rasaya seperti berada di
penjara. Satu-satunya yang dapat mengobati kesepian saya adalah Aba. Ya,
aba yang sabar, aba yang tenang dan aba yang mendengarkan semua obrolan
saya tentang koran yang baca atau tentang kondisi pasien di sekeliling
saya, atau juga tentang mimpi-mimpi saya setelah sembuh nanti. Bagi
saya, aba adalah ayah yang tau segalanya, sehingga saya tidak pernah
bosan dijaga dan berada disampingnya. Dalam keadaan sesakit apapun, aba
tetap tenang dan menghibur saya untuk tetap kuat dan sabar. Bersama emak
setiap pagi aba melatih saya berjalan disekeliling koridor. Kadang
dalam hati saya sering menangis, merasa bahwa saya telah banyak
menyusahkan. Tapi dengan segera perasaan itu juga hilang seketika, saat
menatap wajah tulus mereka yang tidak pernah terkesan lelah. Apakah ini
yang disebut dengan "never ending love"? Anak adalah darah daging orang
tua. karena sebuah cinta kasih maka kita hadir kedunia ini. Sebanyak
apapun kita beri harta sebagai balas budi kita pada mereka, rasanya
memang tidak pernah sebanding dengan segala kecemasan, perhatian dan
limpahan kasih sepanjang hidup kita. Memang, akhirnya kata Allah juga,
bahwa hadiah terindah dan balasan terbaik untuk orang tua kita adalah
setulus dan selaksa do’a dari kekuatan iman yang kita bina agar dapat
menyampaikan segala harapan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka,
dengan sebuah kekuatan ruhiyah yang menggelora. Betapa indahnya, maka
hendaknya kita selalu menyertakan mereka dalam do’a shalat kita yang
penuh makna.
" assalamualaikum" tiba-tiba suara yang sangat saya kenal terdengar dari arah pintu.
" waalaikum salam..aba!" seru saya tidak bisa menyembunyikan kelegaan.
"Naah, itu yang kau tunggu-tunggu sudah datang Din! Waah…anak kau ini
sudah gelisah kali rupanya Pak. Tampaknya dia takut, sebentar lagi
"pembantaian akan dimulai" seloroh Opung Hasan menyambut aba.
"Kenapa Nak? Tadi nggak apa-apa kan? Pembantaian apa Opung?" tanya aba
cemas,berjalan kearah ranjang sambil menaruh barang-barang bawaan diatas
meja.
" Nggak Ba, Opung becanda aja. Itu lho Ba, sebentar lagi khan waktunya
Suster Susi datang." Sahut saya dengan sedikit nada takut. Tidak heran
memang kalau Opung bilang "pembantaian", sebab kunjungan suster Susi
setiap sore kekamar kami selalu membawa suasana pilu bagi saya dan semua
penghuni kamar.
suasana pilu itu terjadi karena kami begitu sedih mendengar teriakan
kesakitan dari Ibu Sri, setiap kali kakinya dilepaskan dari alat traksi
oleh suster susi. Sebagai suster kepala saya tau, bahwa Suster susi
wajib membersihkan dan mengganti verban pebalut luka dikaki Ibu Sri, dan
untuk melakukan itu, maka terpaksa kakinya yang patah harus diangkat
dan dibolak-balik sedemikaian rupa agar hasil terbaik bisa dicapai. Maka
bisakah sahabat membayangkan bagaimana sakitnya bila dua patahan tulang
pada kaki itu saling bergesekan dan menghujam luka yang menganga?
Subhanallah…teriakan dan lolongan "Allahuakbar" membawa suasana sedih
sekaligus mengharukan bagi kami. Tanpa sadar kami para pasien saling
komat-kamit berdo’a agar "prosesi" ini dapat dihadapi dengan tabah oleh
Ibu Sri. Dan yang paling saya kagumi adalah sang suami yang dengan sabar
membujuk, menyabarkan dan membantu Suster Susi dengan cekatan. Belahan
jiwa…begitulah seorang suami seharusnya. Sakitnya istri adalah sakit dia
juga, sehingga timbul sebuah empati sepenuh jiwa tanpa harus banyak
berkata-kata.
"Selamat sore semuanya" suara Suster Susi seperti memecah keheningan
ruangan. Reflek wajah saya menoleh pada seperangkat alat bedah dan
suntik serta deretan antibiotik berikut analgetik di atas meja dorong
stainless steel. Wajah ibu Sri saya lihat mulai pucat pasi. Kami tidak
ada lagi yang bernafsu untuk bercanda. Suster yang sabar mulai mengganti
verban pasien satu persatu dan memberi mereka nasehat-nasehat. Dan
dengan sabar juga dia melakukan "prosesi" Ibu Sri disaksikan semua
pasien yang saling menahan nafas kecemasan.
"Nah, sekarang giliran putri saya yang mungil ini. Siap? Kita suntik
dulu ya?" dengan senyum suster mulai menyiapkan satu botol amoxan dan
pelarutnya, saat kereta obat sudah nangkring didepan ranjang saya. Aba
spontan memegang tangan saya yang di infus sambil mengelus pembuluh
darah yang menonjol seolah menenangkan saya. Jujur saja, setiap obat ini
disuntikkan lewat infus, sakit yang amat sangat mengalir ke sekujur
tangan dan jari saya. Allah, kalaulah boleh saya meminta pada suster
agar beliau tidak menyuntik, maka akan saya paksa. Tapi, saya sangat
mengerti bahwa ini adalah prosedur kesembuhan yang harus saya lewati.
Ikhtiar adalah usaha yang mesti kita jalani, sebagai pengiring do’a kita
pada Allah, Sang Maha pemberi Kesembuhan.
"Ba, Dodo takut …" tanpa sadar kata itu keluar dengan nada gemetar,
nyaris menangis. Ah, terbayang sakit sebentar lagi menyerang saya.
"tenang ya Nak, cuman sebentar ko’. Dodo khan mau sembuh. Bener khan
suster?" ucap aba sambil tetap mengelus tangan saya yang semakin kurus.
Suster Susi hanya tersenyum, dan…
"Aakkhhh…Allahuakbar! Ya allah, sakit sekali Ba…" amoxan mulai
disuntikkan ewat infus. Panas dan bara rasa menjalar disekujur tangan.
Dengan tetap tenang, aba memijat tangan saya yang mulai membengkak.
Tanpa terasa air mata saya menetes di kerudung. Suasana kamar begitu
hening.
"Sabar ya Nak." Aba mengusap tetes air mata itu.
Saya mengangguk perlahan. Suster susi meninggalkan ruangan dengan kereta
obatnya. Pelan-pelan panas itu menghilang, seiring dengan mata saya
yang mulai memberat. Lemas sekujur tubuh membuat saya pasrah tak
bergerak. Aba tetap mengelus tangan saya sambil membaca koran. Saat
adzan maghrib tiba, mata saya bergerak kesana kemari. Shalat bagi saya
sekarang memang hanya mampu dengan mata saja.
"Sudah, sekarang tidur ya. Tangannya jangan banyak digerakkan, supaya tidak bengkak." kata aba sambil merapikan selimut saya.
Saya cuma bisa mengangguk. Entah kenapa rasanya malam ini punggung dan
kaki saya lebih sakit dari kemarin. Tidak ada satu posisipun yang enak
buat saya memejamkan mata barang sejenak. Tapi saya paksa juga. Sekilas
saya masih sempat melihat aba yang sibuk berdo’a.
Menit demi menit berlalu. Saya masih belum bisa memejamkan mata. Bahkan
sakit itu rasanya semakin menusuk. Ya Allah, berilah hambamu kesempatan
barang sejenak saja untuk terlepas dari rasa sakit ini, agar hamba bisa
istirahat, hati saya sibuk berdo’a. Seperti sejuta sembilu, kedua kaki
saya rasanya disayat-sayat dan dibebani oleh batu yang begitu berat.
Semakin membuat panik karena keduanya tak dapat saya gerakkan. Tubuh
seperti terhempas begitu saja tanpa saya punya daya untuk
menggerakkannya.
" Adduuh…sakit Ba, sa..sakit sekali…dodo nggak kuat ba!" tak sanggup saya menangis lirih
Aba memijat kedua kaki saya dan membelai kening saya yang penuh keringat
" tahan ya Nak. Nanti juga hilang. Tadi khan sudah minum obat" jawab aba lembut
Tapi sakit ini tidak bisa kompromi. Semakin terasa menusuk tulang, seolah sembilu tersayat disana.
" Aaghh…do..Dodo nggak kuat Ba. Nggak kuat. Tulang rasanya
linu…dodo..dodo…rasanya pengen mati aja ba….nggak tahan" air mata saya
tak terasa menetes, rasanya saya sudah tidak sanggup lagi. Jarum infus
mulai bergeser membuat tangan saya membengkak dan biru lebam. Slang
kateter turut bergeser membut sakit semakin bertambah.Keringat dingin
membasahi sekujur badan saya. Bibir rasanya perih karena saya sibuk
menggigit menahan rasa sakit yang semakin tajam
"Jangan bilang begitu Nak. Dodo tidak boleh putus asa"
"Panggilin dokter Ba! Panggilin dokter! Duuuh…Dodo pingin disuntik
penahan sakit…tolong Ba, panggilin susteeer…dodo nggak kuat lagi…masya
Allah!"
" Iya..iya, tapi Dodo sabar ya. Aba panggil dokter dulu"
Segera aba bergegas menuju ruang dokter. Ya Rabb, kasih sayang dalam
ketenangankah ini? Sehingga aba menghadapi segala protes saya dengan
tenang. Saya teringat emak. Andaikan saja emak ada, mungkin suasana akan
lebih heboh. Emak adalah simbol kasih sayang yang lain bagi saya. Kasih
sayang dalam kecemasan. Sebuah empati yang mengharukan, amat sangat.
Walaupun kasih sayang seperti ini tetap perlu ditenangkan oleh seorang
yang lebih tenang tentunya.
" kenapa gadis kecil ibu? Kesakitan ya? Hmmm..sekarang ibu coba suntik
langsung di kakinya ya. Barusan dikasih obat sama dokter" tiba-tiba aba
dan suster susi sudah berdiri disamping saya. Saya cuma bisa mengangguk
lemah. Jarum suntik itu ditancapkan dikedua kaki saya, dan obat itu
mengalir seketika. Dari sampulnya saya tau bahwa itu adalah ampul
analgetik dosis tinggi, yang jarang diberikan kecuali "emergency".
"sekarang tidur yang nyenyak. Besok ibu kesini lagi" suster susi pun meninggalkan ruangan.
Saya tak mampu menjawab. Hanya mampu menatap dua kaki saya yang tak
bergerak. Tanpa sadar saya mengerang kesakitan. Entah kenapa saya
rasanya ingin protes pada keadaan. Saya rasanya merasa begitu
disengsarakan. Erangan kesakitan saya tiba-tiba menjadi tangis dalam
kekesalan. Tatap nanar saya mencari-cari aba disudut ranjang,
seolah-olah berkata "Ba, kenapa bisa sesakit ini? Kenapa begitu berat??
Kenapa harus saya? Bukankah saya punya begitu banyak hal yang ingin
dikerjakan? Bukankah saya selama ini tidak pernah menyakiti siapapun?
Kenapa? Kenapa harus saya?"
Aba tiba-tiba menangkap "protes" saya, dan dengan lembut aba membelai kening saya.
"Nak, aba tau Dodo sakit. Tapi… coba deh Dodo renungkan,… bukankah
memang dodo harus melewati tahap sakit seperti ini setelah operasi? Dodo
pasti belajar itu dalam kuliah khan?’
Saya mengangguk perlahan, bulir air mata masih menetes.
"operasi itu tidak mungkin langsung sembuh. Kalau dodo lagi menghadapi
kondisi ini, maka dodo harus tanamkan terus dalam hati bahwa, besok dan
besok lagi kondisi pasrti akan lebih baik. Semakin dikasih obat, luka
dodo akan semakin sembuh. Sakit akan berangsur hilang. Bayangkan dan
jadikan itu semangat, sehingga dodo akan merasakan bahwa sakit itu
justru jadi rahmat buat dodo"
"rah..rahmat Ba? Ta..tapi..sulit rasanya.." saya masih protes
"Lho…semakin dodo tabah, dan sabar dalam sakit, maka itu bearti dodo
sedang menghadapi jihad. Keyakinan untuk sembuh dan berusaha untuk
sembuh serta selalu membersihkan hati dari perasaan "marah" sama Allah,
itu merupakan jihad kita dalam kesakitan, Nak. Dan dalam sakit kita
akhirnya justru mendapatkan pahala" sambung aba lagi. Deg! Seperti
ditampar rasanya muka ini. Seorang Aba yang bukan aktifis dakwah sama
sekali ternyata berkata sesuatu yang seharusnya ada dalam benak dan jiwa
saya. Tangis saya tiba-tiba berhenti. Aba menyeka kedua pelupuk mata
saya dengan penuh kasih.
"Sekarang Dodo ikuti kata-kata aba ya..Allah..Allah…Allah" aba mengucapkan "Allah" berulang-ulang didepan saya.
"Allah…Allah…Allah…" saya mengucapkan kata itu, tanpa terasa tangan saya
menggenggam jemari aba begitu erat. "Allah…Allah…Allah..Allah" air mata
penyesalan saya mengalir deras. Ya Allah, ampuni saya. ternyata memang
manusia itu lemah, tapi kadang kita "malu" buat mengakuinya. Malu itu
bisa muncul dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk penyelewengan,
penipuan, pemerasan dan seperti sekarang yang baru saya hadapi,
kelemahan karena minimnya ketabahan dan keyakinan akan ujian dari Allah.
"jangan mengucapkan kata "aduh" ya Nak. Dalam sakit, sesakit apapun,
dodo harus tetap mengucapkan nama Allah. Insya Allah, sakit dodo akan
mendapatkan rahmat".
"i…iya Ba" tangan saya menggenggam semakin erat. "Allah…Allah….Allah…."
saya terus bergumam tanpa henti. Subhanallah…tidak ada lagi fikiran
kesakitan dalam benak saya. Rasa sakit justru terasa sebuah hempasan
nikmat, karena membuat saya semakin khusyu’ mengucap nama-Nya. Perlahan
mata saya pejamkan. Aba melepaskan genggaman saya perlahan. Dan
menggelar sajadah di sudut ranjang. Dalam kantuk yang mulai memberati
mata, sekilas saya pandang aba yang menengadahkan tangannya berdo’a dan
saya yakin pasti ada do’a buat saya dalam keteduhan hati nya dan
kehangatan cintanya sebagai seorang ayah. Tanpa sadar saya pun bergumam
lirih " Allah, berikanlah rahmat-Mu pada Aba dan emak. Bahagia dunia dan
akhirat. Rabbighfirli waliwadaiiya warhamhuma kamaraobbayani saghira".
Amiin. "Allah….allah…allah..allah….allah…saya terus "mengobati" kedua
kaki saya. Opung dan Ibu Sri telah lelap dalam tidur mereka. Insya
Allah, besok pasti lebih baik dari hari ini. Saya yakin itu. Dan malam
pun semakin beranjak ke peraduannya.
kosakata:
Aba : ayah
Laminactomi : operasi pengambilan sebagian tulang belakang (lamina)
Atrofi otot : pengecilan ukuran otot karena lama tidak berfungsi
Open fraktur : patah tulang yang menyebabkan sobeknya otot sekitarnya
Pen : alat untuk menyetukan dua tulang yang terputus
Bedah ortopedi : bedah tulang
Dodo : panggilan untuk anak kedua perempuan
Traksi : alat untuk menarik atau memfiksasi tulang pasca operasi agar tidak bergerak
Amoxan : antibiotik serbuk.
Minggu, 08 Februari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar