Sehat itu mahal lho". Barangkali kita sering mendengar kata-kata seperti
ini. Sepintas lalu kalimat itu terdengar tidank begitu "heboh". paling
paling juga ditanggapi dengan sekilas senyum tipis atau anggukan kecil
saja.
Memang kalau kita coba merenungkan denyut kehidupan disekeliling kita,
sehat itu adalah hal biasa kita temukan sehari-hari. Saya mengira-ngira
persentase orang yang sehat itu pasti lebih besar bila di bandingkan
dengan persentase orang yang sakit. Nah, kalau begitu sehat nggak mahal
dong? Darimana kalimat mahal ini bisa timbul?
Untuk menjawab pertanyaan ini saya mengajak pembaca semua sejenak
melayangkan pandang pada atmosfer sebuah Rumah Sakit. Bersiaplah dan
ikut kaki saya melangkah dari pintu gerbang RSHS menuju Poli Bedah Mulut
dan Rahang di lantai III emergency Lama. Setegar-tegarnya langkah saya
menapaki satu persatu ubin dilantai I, saya tetap akan merasa kelu saat
bertemu dengan kerumunan orang-orang tua yang dengan sabar menunggui
seorang nenek yang tergeletak diatas brankar karena stroke. Dari profil
mereka masing-masing saya bisa memperkirakan bahwa mereka bukan termasuk
golongan orang yang berada. Kain dan baju yang lusuh,selimut rumah yang
kusam, dan sedikit obrolan mereka tentang beratnya biaya yang mesti
ditanggung untuk pengobatan. Ya Rab, betapa mahalnya mereka harus
membayar kesehatan ibunya…batin saya sambil mencoba menembus kerumunan
menuju lift.
Sebuah kemahalan dari segi pengorbanan dan kemahalan dari pasokan biaya
perawatan merupakan masalah moril dan material yang nyata dihadapi oleh
setiap pasien fikir saya sambil tetap menekuri panah lift menuju lantai
III. Sekilas ketika saya tersenyum tipis pada dokter Evi, residen bedah
mulut, disamping saya telah berdiri seorang ibu yang menggendong anaknya
yang masih merah. Tangisnya yang sayup mengundang saya untuk melirik
wajah mungil itu. Masya Allah! Saya hampir menutup mulut karena
kagetnya, wajah mungil dan merah itu ternyata berbibir sumbing! Celahnya
tidak hanya pada bibirnya saja tapi juga melewati gusi dan palatum!
Sebuah kecatatan bawaan lahir yang tidak ada seorangpun yang menduga dan
tidak ada satu ibupun yang pernah terfikirkan untuk mengalalminya.
Dengan lembut dokter Evi melayani pertanyaan-pertanyaan sang ibu dan
memberikan berbagai saran. Sepertinya beliau memang bertanggung jawab
terhadap operasi anak mungil itu.
Baru saja kaki saya melangkah ubin lantai III, dokter Abrup berteriak
mengagetkan "Hei Din, cepet masuk poli! Pasien udah banyak tuh!" .
Saya tidak memperdulikan teriakannya, malah lari menyambar baju poli.
" Dok, ibu Wati kenapa masih datang juga? bukannya waktu jaga
kemarin,temen-temen bilang dia udah mau dijadwal operasi?" tanya saya
sambil membuka status.
"Ya..ndak semudah itu toh? Mengoperasi pasien itu kita perlu mencari
dengan tepat lokasi lesinya dimana, terus…berbagai faktor yang mendukung
treatment juga mesti kita lacak dan disinkronkan. Sekarang, gimana mau
dimulai..lha wong..HB sama fungsi ginjalnya masih kaco gitu ko'! dokter
Abrup menjelaskan sambil tetap melepas verban seorang anak kecil.
Ya Rabb, saya tercenung menatap ibu Wati yang ditemani keluarga di kursi
panjang. Mukanya yang bengkan dan merah serta wajahnya yang meringis
menahan sakit memperlihatkan betapa parah kanker yang dia derita.
Sementara, masih terlalu panjang alur pengobatan yang mesti dia alami
setelah ini.
Sahabat, ternyata "sehat itu mahal" karena untuk menghilangkan sumber
penyakit saja, kita perlu pengorbanan yang tidak kecil. Ketika satu
persatu pasien saya panggil, pandangan saya selalu tertumbuk oleh sinar
mata mereka yang seolah menggambarkan berbagai perasaan hati mereka.
Kepasrahan, kesakitan, kekhawatiran, dan juga pemikiran beratnya biaya
kesembuhan.
Minggu, 08 Februari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar