Minggu, 08 Februari 2015
JADI TUKANG OJEK ITU TIDAK MUDAH
Ternyata profesi jadi Tukang Ojeg pun nggak gampang dan mengandung risiko yang cukup besar. Mereka harus hati2 dalam membawa penumpangnya agar selamat sampe tempat tujuan, mereka harus hati2 dengan kendaraan lain yang sewaktu2 bisa menubruknya, mereka bisa saja berebut penumpang demi lembaran2 rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Coba perhatikan deh deretan Tukang Ojeg yang ada di sekitar mall2 atau tempat2 ramai lainnya. Ya Allah, mereka harus 'bersaing' dengan sekian banyak orang untuk mendapatkan satu atau dua penumpang. Ya Allah, sungguh Engkau Maha Adil dalam membagikan rezeki kepada hamba2Mu. Ya Allah, limpahkanlan rezeki dan kesabaran kepada saudara2ku yang berprofesi sebagai Tukang Ojeg, begitu bisikan hatiku setiap melihat deretan Tukang Ojeg (terutama di wilayah Mal Cijantung, Lampu Merah Cililitan, Pasar Obor Cijantung dsb).
Sungguh, banyak banget hikmah dan pengalaman yang bisa dijadikan renungan di setiap ruas jalanan yang kita lalui. Anak2 Jalanan, Pedagang Kaki Lima, Tukang Sampah, Penjaja Koran, Tukang Sapu Jalanan, Pengamen, Peminta2, dsb. Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, bagaimana seandainya kita menjadi mereka ?? Jadi inget obrolan dengan Pak Anwari, Pak Hadi dan Mbak Yana ketika peserta Outbond Forsimpta sedang main rakit di Cibubur kemarin. Pak Anwari sendiri ternyata juga sering memperhatikan orang2 yang ada di sepanjang jalan spt itu. Coba deh perhatikan mereka dengan seksama...!!! Subhanallah, mereka bekerja dengan begitu profesional, bangga, ikhlas dan penuh syukur akan profesinya masing2. Lalu, apakah kita sudah seprofesional seperti mereka dalam bekerja ?? Mari kita merenung kembali !!!
Sejak jadi Tukang Ojeg untuk diriku sendiri, aku juga semakin sering merenung tentang kematian. Aku juga semakin sering beristighfar (terutama jika ada yang nyalip dan kebut2an). Ya Allah, ternyata kematian itu sangatlah dekat dengan kita semua. Bisa saja khan ketika kita lagi di jalan seperti itu, tiba2 saja ditubruk bis atau kendaraan lain dari belakang ?? Trus bagaimana kalau pada saat itu juga kita langsung meninggal ?? Sudah siapkah kita ?? Sudah cukupkah perbekalan kita untuk menjalani kehidupan yang hakiki ?? Semalem pas nyampe di Jalan Raya Kopasus, aku nyalip Ambulance yang lampunya sedang berkedip2 (kayaknya sedang membawa mayat). Abis nyalip ambulance itu, pikiranku langsung bergerak refleks...gimana ya seandainya aku yang jadi mayat di ambulance itu ?? Dan seolah2 ambulance itu balik mengejarku dari belakang, hiiiiyyyyy...jadi merinding dan pengen nangissss !!! :(( Dari situ aku juga jadi inget waktu muhasabah pas acara Outbond kemarin, jadi inget waktu jalan di atas bara api. Ya Allah, menghadapi panasnya bara api di dunia aja masih banyak yang takut, gimana jika harus menghadapi panasnya api nerakaMu ?? Hikkkkssss :((
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar